Saturday, February 9, 2013

Kesehatan ternak

Sebagai seorang sarjana di bidang peternakan saya hendak berbagi sedikit tentang manajemen kesehatan ternak kepada pembaca online di Indonesia.Mungkin saat ini anda sedang kebingungan karena ada ternak anda yang sakit, itu wajar saja karena ternak tersebut merupakan sumber penghasilan dan mungkin juga sebagai tabungan anda. Budaya masyarakat Indonesia dalam beternak memang berbeda dengan budaya di luar negeri, Sebagian besar peternak kita masih mengelola peternakan mereka secara tradisional. Persepsi dan tujuan beternak juga tidak terlalu kea rah ekonomis, melainkan menjadi usaha sampingan atau sekedar tabugan.

Pentingnya kesehatan ternak sama dengan pentingnya bahan baku pada industri, kesehatan ternak dapat dijadikan sebagai faktor produksi di dalam peternakan. Untuk itu ada baiknya sebelum terjun membuka usaha peternakan kita harus menghitung sisi untung rugi berkaitan dengan resiko kesehatan ternak secara lebih detail dan terperinci. Banyak peternak yang gagal karena mengabaikan masalah kesehatan ternak ini.

Beberapa hal yang paling penting diketahui dalam masalah kesehatan ternak adalah sebagai berikut:
1. Ciri-ciri hewan ternak yang sehat (sapi, ayam, kambing, domba dan kuda)
2. Ciri-ciri hewan yang sakit
3. Penanganan pertama terhadap penyakit ternak
4. Standar prosedur pelaporan kepada petugas kesehatan ternak.

Secara umum ciri-ciri hewan (ternak) yang sehat antaranya; gerakan lincah, nafsu makan baik, mata terbuka lebar dan lincah, telinga bergerak baik (untuk sapi), bulu bersih dan tidak berdiri. Itu adalah ciri-ciri fisik ternak yang sehat, sedangkan secara anatomi dan fisologi ternak kesehatan ternak untuk fisik luar; anggota badan sempurna, kaki-kaki berkembang simetris, dan tidak ada cacat anggota tubuh.

Ciri-ciri hewan yang sakit adalah sebagai berikut; nafsu makan kurang, bulu kotor (tidak berkilau) dan berdiri, gerakan lesu, mata sayu dan kadang berair, keluar lendir dari mulut, melenguh atau bersuara yang tidak seperti umumnya. Secara fisiologi ternak dikatakan sakit apabila ada anggota tubuh ternak tersebut yang cacat, ada perbedaan ukuran antara kaki-kaki, tubuh bagian kiri dan kanan tidak simetris. Apabila ditemukan gejala-gejala penyakit seperti ini sebaiknya peternak segera melakukan evaliasi dan melakukan tindakan pertolongan pertama untuk kesehatan ternak.

Banyak macam pertolongan pertama pada ternak, baik dengan memberikan obat tradisional maupun dengan memberi obat yang biasa diberikan oleh dokter hewan. Secara aman memang lebih baik ternak yang sakit tersebut ditangani oleh petugas kesehatan hewan hal ini untuk mencehak terjadinya salah penanganan pada hewan ternak tersebut. Kadang peternak kita banyak berkonsultasi pada pemilik atau penjaga poultry shop, padahal pekerja atau pemilik poultry shop tersebut belumlah tentu memiliki keahlian dibidang penanganan kesehatan ternak ini. Untuk itu pastikan kesehatan ternak anda ditangani oleh ahli yang tepat untuk menghindari kerugian besar yang sering diderita para peternak karena mengabaikan masalah kesehatan hewan ini.

Salah satu unsur pencegahan penyakit pada ternak adalah melakukan manajemen budidaya yang baik, mulai dari kebersihan kandang, kecukupan makanan ternak baik dari segi kuantitas maupun kecukupan gizi (kualitas pakan), serta ketelatenan dalam mengevaluasi perkembangan ternak dari waktu ke waktu. Kebiasaan ternak harus dipahami oleh peternak itu sendiri, sebab suatu waktu dokter sekalipun tidak akan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada ternak tersebut, dan mereka akan menanyakan kebiasaan dari ternak tersebut sebagai bahan diagnosa awal.

Mutu dari ternak sangat bergantung pada kesehatan ternak itu sendiri, di Indonesia sudah ada undang-undang yang mengatur bahwa ternak yang sakit dilarang untuk dipotong apalagi dikonsumsi. Beberapa penyakit ternak bahkan dapan menyebabkan suatu daerah diisolasi oleh pemerintah seperti misalnya Antrax. Untuk itu demi keberhasilan peternakan mari kita sama-sama memperhatikan kesehatan ternak ini.


Related Post



Tulisan di blog ini dapat anda sebar luaskan melalui media apapun, dengan syarat mencantumkan alamat halaman artikel di blog peternakan ini sebagai sumber.